
ims1865 – Assalamualaikum.
Watch “SALUT!!! Cerdasnya UAS jawab Soalan Mahasiswa Kampus UKM Malaysia” on YouTube
Party anti sultan. – Assalamualaikum
Hati sudah suka. – Alhamdullilah.
Menteri buat kecoh di KLIA buka mulut, dedah apa sebenar yang berlaku
Kitab kosong.
*🦅PDS-7🇮🇩*
*PECINTA DUNIA SUFI*
*MARTABAT 7-ALAM*
*Kajian💚Tauhid💙Sufi*
*TENTANG ISMU DZAT ( الله )*
Diambil dari KITAB KOSONG MURRI Jilid l
Karya :
Abah Mohammad Djamhar Abdul Karim Al Bantani.
Lafadz Allah adalah Ismu Dzat Wajibul Wujud (Nama Dzat yang Wajib adanya).
jika Nama ini disebut maka nama-nama-Nya yang lain ikut terpanggil, tetapi jika nama yang lain disebut maka nama-nama-Nya yang lain tidak ikut terpanggil.
Lafadz ini disebut juga ismul A’zham (Nama yang sangat Agung) sehingga dari semua Makhluk-Nya diharamkan memiliki nama dengan lafadz ini terkecuali diawali “Abdu (Hamba) atau yang serupa dengan lafadz Abdu” sehingga memiliki arti dan makna yang tidak menyimpang dari petunjuk-Nya.
Ketahuilah lafadz AllAh (Bahasa Arab) berasal dari lafadz ILAHUN (Tuhan) dengan mengalami lima (5) kali perubahan hingga membentuk lafadz ALLAH.
Yakni dengan perincian dan penjelasan sebagai berikut :
1. ILAAHUN (اله)
Pakai tanwin pada Huruf Ha (Besar), Artinya Tuhan dan lafadz ini termasuk Isim Nakirah, yakni : Nama yang memiliki Makna Umum atau banyak Versinya.
Maka itu boleh ditanwin. Dimana yang disebut Tuhan disini yang mana.
Maka tidak tahu.
Lafadz ini disebut juga isim jinis, yakni : setiap apapun yang disembah baik yang Haq maupun yang Batil maka itu disebut ILAAHUN, jika ada yang menyembah Matahari maka Matahari itu disebut ILAAHUN (Tuhan), jika ada yang menyembah kuburan maka Kuburan itu disebut ILAAHUN (Tuhan), dan lain-lain.
Maka didalam kalimat Thayyibah menggunakan lafadz ” Laa ILAAHA illallah” yang artinya Tiada Tuhan (yang umum dan yang banyak baik yang haq maupun yang bathil) kecuali hanya Allah (yang Khusus dan tunggal yang Haq Wajib disembah).
Cobalah Anda berdzikir menyebut-nyebut ILAAHUN… ILAAHUN…ILAAHUN sebanyak-banyaknya, maka tidak akan berfaedah Makrifat kepada Alloh SWT.
2. AL-ILAAHU (الاله)
Pakai Alif Lam Ma’rifat diawal, Artinya Allah, yakni: AL HAQ yang wajib di sembah dan lafadz ini termasuk sudah Ma’rifat, yakni: Nama yang memiliki Arti dan Makna Khusus, karena kemasukan Alif Lam Ma’rifat, yakni: sesuatu yang tadinya Umum (Nakirah) takala dimasukan Alif Lam Ma’rifat maka memiliki Arti dan Makna yang menunjukan Khusus (Ma’rifat).
Setiap ada Alif Lam Ma’rifat dilarang menggunakan Tanwin, karena Tanwin itu menunjukan isim Nakirah (bermakna umum).
Contoh QS. Al baqoroh ayat 2. berbunyi : Lafadz Dzaalik alkitaabu lafadz “Al kitaabu” sudah kemasukan Alif Lam Ma’rifat sehingga yang dimaksud “Al Kitaabu” disini bukan kitab-kitab yang lain (yang bersifat umum), tetapi bermakna yang menunjukan Arti Khusus (Ma’rifat), yakni: Satu Kitab itu yang dimaksud yang namanya Al Qur’an.
Tetapi jika lafadznya “Dzalikal kitabun” maka bermakna banyak versi, yakni: Satu kitab yang mana saja karena Nakirah, bisa Al Qur’an, bisa juga Taurat, bisa juga Injil dan lain-lain
karena tidak memakai Alif Lam Ma’rifat.
3. AL-LAAHU (اللاه )
Pakai Sukun pada lam awal dan Lam kedua pakai Alif Artinya Allah, yakni AL HAQ yang wajib disembah dan Lafadz ini sama seperti Lafadz yang no 2 tadi, tetapi pada bentuk Lafadz ini Hamzah yang ke-2 dari Lafadz AL-ILAAHU (dibuang), setelah itu di Naql (dipindahkan) harakatnya kepada LAM, yakni: dengan disukunkan (dimatikan) pada LAM pertamanya dan dipanjangkan LAM yang ke-2 dengan memunculkan ALIF (yang awalnya masih tersimpan) dan memberi harakat Fathah yang tidak tegak berdiri, karena sebagai tanda panjang huruf ALIF boleh disimpan dan harokat Fathahnya biasa saja, yakni: tidak tegak berdiri, inilah yang dinamakan Mad Thabi’i pada ilmu tajwid.
4. ALLAAHU (اللاه )
Pakai Tasydid pada LAM ke-2, artinya Alloh, yakni AL HAQ, yang wajib disembah dan Lafadz ini sama seperti Lafadz yang no. 3, tetapi pada bentuk Lafadz ini diberi Tasydid pada LAM ke-2 dan Posisi ALIF ke-2 masih tetap dimunculkan, karena bila LAM sukun (mati) bertemu dengan LAM yang hidup atau bertemunya dua huruf yang sama (LAM dan LAM), maka Wajib diidghamkan atau ditasydidkan (satu huruf disimpan) yang disebut dengan Idgham Mitslain (Mutamatsilain) Bila Gunnah lihat pada ilmu Tajwid.
5. ALLAH ( الله )
Pakai Tafkhim, Artinya Alloh, yakni AL HAQ yang wajib disembah dan wajib ada-Nya dan Lafadz ini sama seperti lafadz yang no.4, tetapi pada bentuk Lafadz ini huruf ALIF yang ke-2 tadi disimpan dengan masih tetaplah dibaca panjang, yakni: mengunakan Fathah berdiri tegak sebagai tanda tersimpannya huruf ALIF dan ini termasuk Mad Thabi’i, tetapi ketika mengucapkan Lafadz ALLAH jika di Tarqiq (ditipiskan) seperti Panggilan Orang Nasrani, maka akan bermakna Orang yang mengucapkan itu tidak mengagungkan-Nya malah sebaliknya, yakni: sebagai bentuk Panggilan Penghinaan.
Didalam mengucapkan Lafadz ALLAH dengan di Tafkhim (ditebalkan) sebagai tujuan Li’adzomahu, yakni: untuk mengagungkan dan memuliakan Allah Azza wa Jalla itulah fungsi Tafkhim pada Lafadz ini.
Coba Anda berzikir Tarkik (Tipis) Menyebut-nyebut ALLAH…ALLAH..ALLAH.. sebanyak-banyak, maka tidak akan berfaedah Makrifat kepada Alloh SWT.
*TENTANG ISMU DZAT (PEMANTAPAN)*
Lafad Allah (Ismu Dzat) ini merupakan Nama yang paling Agung dari nama-namaNya yang lain dapat juga disebut kepalanya Asma’ul Husna.
Lafadz ini memiliki banyak rahasia pada setiap hurufnya dan temukanlah Natijah setiap hurufnya lalu temukan juga Tsamrah setiap cabang hurufnya.
Berikut ini sekilas tentang Natijah dan Tsamrah yang terdapat pada 4 huruf Asma Allah (bahasa arab), sebagai berikut :
1. ALLAH ( الله )
Masih sempurna ke-4 hurufnya, artinya: Nama Dzat yang wajib disembah dan wajib ada-Nya, Lafadz ini terdiri dari 4 huruf yang merupakan isyarah bahwa Allah SWT itu memiliki Af’al, Asma, Sifat, dan Dzat.
*Dan didalam ajaran tauhid ada rahasia angka 4 yang harus Kita pelajari dan Imani yakni tentang Mentauhidkan Af’alullah (pekerjaan/perbuatan Allah),*
*Mentauhidkan Asma’ulllah (99 nama-nama Allah),*
*Mentauhidkan Sifatullah (41 Sifat-sifat Allah) dan Mentauhidkan Dzatullah (Esa Dzatullah) inilah yang disebut dengan Syahadat Tauhid 50 ‘Aqoidul Islamiyyah.*
Dimana Rosululloh S.A.W. bersabda: “Barangsiapa yang Ma’rifat kepada dirinya, maka sungguh ia akan Ma’rifat kepada Tuhannya dan barangsiapa yang Ma’rifat kepada Tuhannya maka ia sungguh ia telah (manjadi) 👉🏻Bodoh”.
*Takala Kita lihat jari tangan tangan mengapa panjangnya tidak sama karena membentuk lafad Allah,* maka didalam hukum islam jika mencuri pergelangan tangannya dahulu dipotong dan bila ingin cepat terkabulnya suatu hajat, maka berdoalah yang mantab dengan mengangkat kedua tangan Anda hingga setinggi bahu.
Dari sumber Lafadz “Allah” ini, maka berkembanglah rahasia yang lain dan mulailah terungkap tentang makna angka 4, misalnya saja: Af’al, Asma, Sifat dan Dzat.
Asyhurul Hurum (Bulan yang dimuliakan) ada 4, yaitu: Muharam, Rajab, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah.
Kitab utama ada 4 yakni: Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an.
Rusu’ulul Malaikat ada 4, yaitu: Jibril, Minka’il, Isrofil dan Izro’il.
Kholafaur Rosyidin ada 4, yaitu: Abu Bakar As Siddiq, Umar Al Faruq, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Tholib Rodhiallahu Anhum.
Mujtahid Mutlaq ada 4, yakni: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal.
Tasbih ada 4, Yaitu: Subhanallah, Alhamdulillah, Lailaahaillallaah dan Allahu Akbar.
Hari Utama ada 4, yaitu: Hari Jum’at (Penghulunya hari), Hari Arofah (Hari banyak keistimewaan), Hari Nahr (Hari Penyembelihan Nafsu Hewani) dan Hari Fitri (Hari Kemenangan fitroh).
Wanita Idaman Syurga ada 4, yaitu: Maryam binti Imron (Wanita suci), Khodijah binti Khuwailid (Wanita pertama masuk islam), Asiah binti Muzahim (Istri Fir’aun) dan Fatimah binti Muhammad (Tuan Putri wanita Syurga).
Para pendahulu Negri yang Awal masuk Syurga ada 4, yaitu: Rosululloh S.A.W. pendahulu dari bangsa ‘Arab, Salman Al Faritsi pendahulu dari bangsa Persia, Suhaib pendahulu dari bangsa Rum, dan Bilal bin Rabbah pendahulu dari bangsa Habsyah.
Orang yang di rindukan Syurga ada 4, yaitu: Ali bin Abi Tholib, Salman Al Faritsi, Ammar bin Yasir dan Mikdad bin Al Aswad.
Ilmu Syariat ada 4 bahasan utama, yaitu: Ibadah, Mu’amalah, Munakahah dan Jinayat.
Anggota Wudhu ada 4, yaitu: Muka, Tangan, Kepala dan Kaki.
Unsur Pokok Utama dalam badan ada 4, yakni: Empedu, Limpa, Darah dan Lendir.
Musim ada 4, yaitu: Musim Panas, Musim Dingin, Musim Semi dan Musim Gugur.
Dasar Hitungan ada 4, yaitu: Satuan, Puluhan, Ratusan dan Ribuan.
Tabi’at ada 4, yaitu: Panas, Dingin, Basah dan Kering.
2. LILLAHI ( لله )
Dibuang ALIF, artinya: Karena Allah, inilah tujuan segala Ibadah apapun seperti halnya puasa ada sebagian orang berpendapat tujuan dari Puasa adalah “La’allakumTattaqun” untuk bertaqwa, pendapat ini kuranglah tepat karena tujuan segala Ibadah apapun hanya satu yakni Li Mardhotillah, Lillah, Lillahi Ta’ala yaitu Karena Allah.
Hal inilah yang selalu dikerjakan disetiap Lafadz niat Ibadah apapun yang selalu di akhiri dengan kalimat “Lillahi Ta’ala” seperti: Nawaitu Shoma Ghodin terakhirnya Lillahi Ta’ala, Nawaitu Ghusla terakhirnya Lillahi Ta’ala dan lain-lain.
Jikalau Taqwa adalah sebagian dari hikmah ibadah dan salah satunya adalah puasa, ini Allah SWT. berikan bila didalam mengerjakan Ibadahnya tadi dilakukan dengan penuh keikhlasan dan Syariatnya benar.
Lafadz ini juga yang memiiki Makna segala apapun tertuju kepada Allah SWT. yakni: Semua Makhluq diciptakan oleh Allah, Semua Makhluq menghadap kehadirat Allah, Semua Makhluq bertangjung jawab kepada Ibadah ditujukan kepada Allah, Semua kejadian dari Allah dan lain-lain.
Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Minallaahi, Billaahi, ‘Indallaahi, Lillaahi, Fillaahi, Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun.
3. LAHU ( له )
Dibuang ALIF dan LAM awal, Artinya bagi-Nya atau kepunyaa-Nya.
Pada Lafadz ini memiliki makna ”Lilmilki”, yakni: kepunyaan atau Kepemilikan seperti yang Allah SWT. firmankan: “Adalah kepunyaan Allah apa yang ada di (7 lapis) Langit dan di (7 lapis) Bumi”.
Dari ayat ini jelas sekali bahwa semua ini adalah Makhluq-Nya dan setiap Makhluq-Nya adalah milik-Nya dan bagi-Nya bebas tanpa paksaan dari siapapun untuk mengambil dan menghilangkan Makhluq-Nya, untuk mengampuni atau menyiksa Makhluq-Nya, untuk menjadikan atau tidak, memberi atau tidak, karena semua ini adalah Makhluq-Nya.
4. LAA ( لا )
dibuang ALIF, LAM awal dan HA, Artinya: LAA Nafiyyah maksudnya didalam qaidah Tasawuf dikenal dengan kalimat: Jika aku berkata LAA (Tidak ada Tuhan), maka Tujuannya adalah ILLAA (hanya Allah) begitupun sebaliknya jika aku berkata ILLAA (hanya Allah) maka tujuannya LAA (Tidak ada Tuhan)”.
LAA adalah NAFI sedangkan ILLAA adalah ITSBAT, dan NAFI mengandung ISTSBAT
sedang ISTBAT mengandung NAFI tidak bisa bercerai antara ISTBAT dan NAFI,
Lafadz ILLAH adalah MUNFI (yang ditiadakan,
sedangkan Lafadz ALLAH adalah MUSTBAT (yang ditetap),
*LAA ILAAHA (ditenggelamkan), ILLAAH (dimunculkan), LAA ILLAHA (ditiadakan), ILLAAH (ditetapkan) dan seterusnya.*
5. AL ( أل )
Dibuang LAM kedua dan HA’, Artinya: AL (Alif Lam) Ma’arifat bukan Nakirah yang selama ini kita sembah, yakni: Tuhan yang Kita sembah bukan yang Nakirah (Umum dan Banyak) tetapi yang sema’rifat-ma’rifatnya (Sekhusus-khususnya), yaitu: ALLAH Azza wa jalla, jikalau kita berdzikir dengan Lafadz Nakirah, seperti ILAAHUN. ILAAHUN.
ILAAHUN tentunya keyakinan Kita akan bercabang, karena yang dipanggil-panggil dan yang disebut-sebut adalah Tuhan yang Umum dan Banyak.
*Ketahuilah yang menemukan ALIF LAM disini sebagai Ma’arifat adalah Imam Sibaweih seorang fakar Ilmu Nahwu, yaitu: Muridnya dari Imam Kholil fakar Ilmu ‘Arud, takala berdzikir para Ahli Thariqat dengan Lafadz ALLAH. ALLAH. ALLAH.*
Terinkisyaf bahwa Imam Sibaweih mendapatkan Rahmat Allah di Alam Barzah yang begitu melimpah ruah sehingga bertanya: Apa sebabnya Anda mendapatkan Rahmat Allah yang begitu melimpah di Alam Barzah ini ?..
Imam Sibaweih menjawab: ini disebabkan telah aku tuliskan didalam Kitab-Kitab karanganku bahwa Lafadz ALLAH itu adalah Ma’rifat yakni isyarah dari huruf ALIF dan LAM diawal kalimat ALLAH (bahasa).
6.HU ( ه )
Dibuang ALIF, LAM awal dan LAM kedua, Lafadz ini merupakan asal dari Lafadz HUU atau HUWA yang artinya Dzat.
Ketahuilah arti kata “Dzat” yang sering Kita dengar itu janganlah diartikan bahwa Allah itu bertitik, bernoktah, berunsur, beratom dan lain-lain.
Karena itu semua Makhluk Ciptaannya tetapi maksud dari Dzat yang dimaksud adalah hanya sebuah kata yang berhampiran (mendekati) kepada yang benar agar mudah didalam memahami perihal konsep ketuhanan, dan janganlah Dzat disini diartikan yang sesungguhnya karena bisa salah menyangka dan salah memaknainya inilah Qoul yang benar.
Ketahuilah, bahwa Lafadz HU atau HUU atau HUWA ini Allah SWT. perintahkan agar selalu disebut-sebut atau di panggil l-panggil sebanyak-banyaknya tidak berhingga.
Sebagaimana firman Allah SWT. QS Al Ikhlas ayat (), yang berbunyi: katakanlah (Yaa Muhammad) HUWA/HU/HUU (yakni Dzat yang maha sempurna yang dinamai) ALLAH yang Maha Esa (Tunggal)”.
Jika ada yang berdzikir HU HU HU atau HUU HUU HUU atau HUWA HUWA HUWA artinya adalah sama, yakni: Dzat Dzat Dzat.
Bagi ulama Tasawuf Lafadz ini merupakan amalan Bathiniyyah sehingga takala Nafasnya Naik (Tarik nafas) berdzikir HUU dan Ketika Nafasnya Turun (Membuang Nafas) berdzikir ALLAH artinya Dzat Allah, karena setiap nafas yang Allah karuniakan harus ada laporannya yakni Dzikrulloh ini dilakukan ketika nafas Naik Turun atau Keatas Kebawah atau Masuk Keluar atau Kembali dan Pulang kepada yang memberikan Nafas ini yakni: Allah S.W.T.
Inilah yang disebut dengan Insan Kamil.
Bagi setiap Insan Kamil selalu berdzikir didalam Qolbi Bathinnya Lafadz HUU ALLAH, HUU ALLAH, HUU ALLAH atau ALLAH HUU, ALLAH HU, ALLAHU.
ini dilakukan karena diakhirat nanti ada pertanyaan: Untuk apa saja Umurmu dihabiskan?..
Umur (usia) itu adalah saling bersambungnya antara Nafas yang Masuk dengan Nafas yang Keluar, antara Nafas yang Naik dengan Nafas yang Turun, antara Nafas yang Keatas dengan Nafas yang Kebawah, antara Nafas yang Kembali dengan Nafas Pulang kepada yang memberikan Nafas ini yakni Allah maka pentingnya Dzikrullah di Qolbi Bathiniyyah agar mudah menjawab pertanyaan ini sebab keseluruhan Nafas ini telah diisi dengan Dzikrullah (mengingat Allah).
7. AH ( أه )
Dibuang LAM awal dan LAM kedua, didalam bahasa Arab lafadz ini merupakan singkatan dari Lafadz INTAHA ( انتهى ) yang artinya kesudahan (Akhiran).
Maksudnya adalah didalam perjalanan mencari Allah S.W.T yang Zhahir maupun yang Bathin ada permulaan dan ada kesudahannya (akhirannya), maka jika sudah berdzikir kalimat AH AH AH di Qalbi Rabbani (bukan di Qolbi Bathiniyyah) berarti perjalanannya sudah sampai Tujuan, sudah sampai di perbatasan, berlayarlah sudah sampai dipulau.
8. ALIF ( ا )
Dibuang LAM awal, LAM kedua dan HA, ini merupakan Huruf yang Tunggal (Wahdaniyyah) dan berdiri sendiri tanpa butuh bantuan siapapun (Qiyamuhu Binafsihi), jika diberi Harakat fathah, Kasrah dan Dhamah maka akan berbunyi A, I, U BAHKAN E dan O pun didalam ilmu Tasawuf dipahami bahwa itu semua adalah Dzikir menyebut nama “Allah”.
Ketahuilah bahwa disetiap bunyi apapun di Alam jagat Raya ini pada haqiqatnya berdzikir.
ALLAH, ALLAH, ALLAH, maka terbitnya bunyi itu dari 4 Anasir (Unsur) yang sering kita dengar, yakni: dari Anasir Api, Anasir, angin, Anasir Air dan Anasir tanah.
Ketahuilah setiap bunyi atau suara yang berasal dari 4 Anasir ini pada Haqiqatnya berdzikir menyebut nama ALLAH, ALLAH.
ALLAH apakah suara kendaraan bermotor, Bom, Kereta Pesawat Terbang, Jam Dinding, Detak Jantung Anda dan lain-lain baik yang berdentum, berdesir, berderu, berdentang dan lain-lain.
Coba heningkan hati dan pikiran Anda sejenak lalu dengarkan suara-suara Alam Semesta yang setiap saat menegur Kita untuk selalu mengingat ALLAH, ALLAH, ALLAH secara berkekalan.
Huruf ALIF disebut juga huruf yang bisa membunuh dan tidak bisa terbunuh atau disebut juga Huruf yang bisa menghidupkan yang lain tetapi ia tidak bisa dihidupkan oleh yang lain atau disebut juga huruf yang Hidup ( Al Hayyu) dan Bisa Berdiri Sendiri tanpa bantuan siapapun.
Huruf Alif merupakan Asal (dasar) dari semua huruf-huruf hija’iyyah yang 29 huruf.
Jika Kita lihat ALIF seolah-olah Kita melihat huruf yang 28 huruf yang tersimpan didalam huruf ALIF dan sebaliknya jika Kita melihat yang 28 huruf seakan-akan Kita hanya melihat satu huruf, yakni: “Huruf Alif”.
Menurut Kaidah Tasawuf berbunyi: “Syuhudul Wahdah Fil Kasroti, wa Syuhudul Kasroh Fil Wahdati””, artinya: jika memandang yang satu maka yang kelihatan banyak, jika melihat yang banyak maka tampaklah hanya satu yakni Allah Azza wa Jalla.
Sebagai Contoh:
a. Jika memandang Biji mangga maka sebenarnya yang kelihatan bukan satu tetapi banyak yakni di dalam biji mangga itu ada akar, batang, daun, ranting, buah dan lain-lain kalau Anda tdak percaya coba Anda tanam biji mangga itu maka akan terbukti didalam mangga ada akar, batang, daun, dan lain-lain, dan sebaliknya jika Anda memandang pohon mangga yang besar maka sebenarnya Anda sedang melihat yang satu yakni biji mangga.
b.Jika Anda Melihat Alam semesta, Alam Jagat Raya maka yang tampak sebenarnya yang Anda pandang itu seakan-akan yang Maha Pencipta yakni Allah Azza wa Jalla begitupun sebaliknya.
Inilah mengapa didalam huruf ALIF itu ada tersimpan 28 huruf hija’iyyah.
Ketahuilah semua Kitabullah yang 104 kitab tersimpan maknanya pada 4 Kitab dan dari 4 Kitab ini terkumpul maknanya didalam Kitab Al Qur’anul Karim dan makna Al Qur’an yang 6666 Ayat (bila memakai basmalah) terhimpun di QS. Yasin dan makna QS. Yasin yang 83 Ayat terkumpul di dalam QS. Al Fatihah dan makna QS. Al Fatihah yang 7 Ayat terhimpun didalam lafadz Bismillaahir Rohmaanir Rohiim, dan makna Basmalah yang 19 huruf itu terdapat pada huruf BA dan makna huruf BA itu adalah “Dengan-Ku ada maka apa-apa menjadi ada, dan dengan-Ku jadikan maka apa-apa menjadi terjadi.
Ketahuliah bahwa asal dari lafadz Bismi ( بسم ) adalah Bi Ismi (بإسم ) ada huruf Hamjahnya tetapi ditulis dan dibaca seakan-akan tidak ada Hamjahnya, *ini merupakan Isyarah bahwa Allah SWT itu ADA (wujud) tetapi seakan-akan TIDAK ADA, padahal Kita semua ini menyembah kepada Dzat yang Wajibul Wujud (yang wajib adanya) yakni ALLAH Azza wa Jalla.*
Arti dari Wajibul Wujud adalah bila Allah SWT tidak ada maka yang lainpun tidak ada dan berbeda dengan diri diri.
Kita contohnya: bila diri Kita tidak ada di dunia ini maka yang lain tetap ada, berarti diri kita ini tidak wajib adanya.
Ketahuilah jika Anda ingin menulis huruf BA maka ini merupakan gabungan beberapa ALIF yang di tarik kebawah, kesamping dan keatas.
Ketahui pula bila huruf ALIF ditarik keatas dan kebawah.
kesamping dan diputar maka akan tampak hurup hija’iyyah yang semuanya 28 huruf ditambah huruf ALIF satu sehingga berjumlah 29 huruf dan dari 29 huruf hija’iyyah ini terbentuklah kitab suci Al Qur’an yang 6666 Ayat yang Mulia.
Inilah makna kaidah: “Syuhudul Wahdah Fil Kasroti, wa Syuhudul Kasroh Fil Wahdati”.
9. TIDAK BERHURUF (….)
Dibuang huruf ALIF, LAM awal, LAM kedua dan HA’, artinya: Laa Showtun wa Laa Harfun yakni tidak ada suara dan tidak ada rupa, inilah yang disebut dengan kalam Allah SWT. yang Qodim (terdahulu), Kalam Allah SWT yang sesungguhnya di Lauhil Mahfudz, Kalam di Lauhil Mahfudz ini Allah SWT turunkan kedunia melalui Malaikat Jibril sebagai Tugasnya menyampaikan Wahyu kepada para Rosul kemudian kalam ini dikenal sebagai Wahyu Illahi, Kalamullah, Firman Allah dan Kitabullah yang berjumlah 104 Kitab dan yang Allah sempurnakan didalam Kitabullah Al Qur’an Al Qur’an yang Kita kenal dan Kita pegang disebut Mushaf karena ada rupa dan tidak ada suara, atau ada juga yang disebut Hatif berupa Kaset yakni ada suara tidak ada rupa, atau ada juga disebut Al Qur’an Digital yakni ada suara dan ada rupa tulisannya.
Oleh karena itu sudah seharusnya anda Berwudhu dahulu sebelum Anda menyentuh Mushaf Al Qur’an dan tidak perlu berwudhu jika menyentuh Kaset Al Qur’an karena tidak berhuruf inilah Qoul yang benar dalam mengimani Kitabullah (pelajari makrifat huruf hija’iyyah).
Allah SWT. berfirman: “Janganlah menyentuh-Nya
(Al Qur’an) kecuali bagi mereka yang suci (Muslim yang sudah berwudhu) “.
Janganlah mengartikan Al Qur’an pada ayat ini adalah kalamullah yang Qodim di Lauhil Mahfuzh karena itu penafsiran yang berlebihan.
Kitabullah Al Qur’an Allah SWT turunkan sebagai petunjuk bagi Orang yang bertaqwa (Hudaal Lilmuttaqiin), petunjuk bagi Manusia (Hudaal Linnas) dan juga golongan Jin (Li Ya’buduun).
Pada ayat diatas adalah jelas untuk Makhluk Allah khususnya Manusia, yang tidak mungkin dapat ke Lauhil Mahfuzh untuk menyentuh Kalamullah yang Qodim itu, sedangkam Kalamullah yang Qodim itu tidak ada suara dan tidak ada rupa dan juga tempat yang bernama Lauhil Mahfudzh itu sudah termasuk Alam Lahut (ketuhanan) maka Jirin Jin dan Manusia akan hancur lebur sebelum memasuki Alam itu (gunakan juga konsep Quantum fisika dan Quantum Makrifat sebagai dasar penafsiran agar lebih ilmiah).
Ketahuilah Kalam atau Mutakalimun adalah Sifat Allah SWT. dan hanya dzat Allah SWT. saja yang LAA MAUJUDA ILLALLAH, yakni tidak ada yg berwujud kecuali hanya Allah SWT. yang wajib adanya.
Sayyid Abdul Qodir Al Jailani berkata : “Kalimat ALLAH itu merupakan Ismul A’zhom (Nama yang Agung) dan sesungguhnya Allah SWT. kabulkan jika kamu berkata YA ALLAH dan tidak ada di Qalbi kamu selain-Nya, dan kalimat ini disebut Ismul Khowas (nama yang Khusus) dan Ismul ‘Aja’ib (nama yang mengagumkan) jika kamu berkhalwat mengucapkan ALLAH, ALLAH, ALLAH sampai Qalbu Anda fana (kosong dari yang Alam), maka Anda akan menyaksikan Alam Malakut yang Mengagumkan dan segala sesuatu apapun dengan izin Allah SWT. berkata “KUN..!!. Terjadilah”.
Berkata Para Ulama : “Orang yang berdzikir 70.000 kali kalimat ALLAH ditempat yang sepi dari segala suara (Khalwat), maka tidaklah ia meminta sesuatu kepada Allah melainkan Allah SWT berikan”.
Berkata Para Ulama: “Orang yang berdzikir tiap hari setelah Shalat Subuh kalimat HUWALLAH sebanyak 77 kali maka ia akan menyaksikan sesuatu pada dirinya yang begitu mengagumkan (Istimewa).
Berkata Para Ulama : “Orang yang melazimkan mengucapkan kalimat ALLAH sebanyak 500 kali setelah Shalat dua raka’at (Shalat Hajat atau Tahajud), maka akan berpengaruh besar akan terkabulnya apa yang ia hajatkan”, dan lain-lain.








